Web Hosting

Follow me on Face Book

Followers

Amazone



Tuesday, 25 May 2010
Top Page

Keberhasilan Anas Urbaningrum dalam meraih Demokrat 1, menghembuskan berbagai harapan baru baik bagi Partai Demokrat itu sendiri maupun perpolitikan nasional. Harapan-harapan baru tersebut tercetus dari banyaknya pendapat para pengamat politik “papan atas” dari berbagi kalangan (internal maupun eksternal Partai Demokrat).


Track record politik AU tak akan dibahas dalam tulisan ini, karena sudah banyak dikupas para ahli yang memang tahu banyak sepak terjang Sang Harapan Baru tersebut. Dalam tulisan kali ini saya hanya membatasi dan ingin melihat bagaimana AU melakukan komunikasi politik di DPR, pasca terpilihnya menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.

Seperti kita ketahui bahwa MA (Marjuki Alie), kandidat yang diunggulinya, adalah Ketua DPR RI. Sedangkan AU sendiri adalah adalah anggota DPR. Yang satu ketua DPR, yang satunya lagi Ketua Partai, kedua-duanya dari partai yang sama dan baru selesai bersaing “memperebutkan” Demokrat 1. Seingat pengetahuan saya, dan sekarang terjadi di banyak tempat, setiap ketua partai yang berhasil duduk di Legislatif (DPRD II, DPRD I,) senantiasa menjadi ketua atau wakil ketua. Akan sangat menarik untuk kita saksikan bersama bagaimana kesantunan berpolitik AU dalam berkomunikasi dengan MA di DPR RI.

Kenapa saya tertarik ?

Pagi hari selepas AU terpilih, saya ngobrol dengan tetangga perihal bagaimana kedudukan dua bersaudara (AU dan MA) ini di DPR. Tetangga saya bilang, bahwa Anas akan mundur dari anggota dewan. Entah sumber beritanya darimana, katanya sih dari Televisi. Saya coba cari berita di Internet dan segampang membalik telapak tangan….berita tersebut bertebaran di dunia maya (http://www.detiknews.com/read/2010/05/24/002215/1362618/10/raih-pd-1-anas-siap-mundur-dari-dpr?n991101605).

Saya selaku orang pinggiran dan kampungan sangat bingung dan terperanjat. Puluhan tahun saya sekolah dan berguru kepada para ustadz di kampung, mereka selalu memberikan petuah bahwa “Kepentingan Nasional harus di dahulukan diatas kepentingan pribadi dan golongan”. Saya berfikir……menjadi anggota DPR itu adalah untuk kepentingan Nasional. Dengan adanya Anas di DPR, banyak masyarakat yang merasa terwakili dan terkagum/memuji terhadap kesantunan berpolitik Anas. Sedangkan menata dan membangun Partai Demokrat itu derajatnya tidak lebih tinggi dari mewakili rakyat Indonesia secara menyeluruh dan lintas partai/lintas golongan.

Ataukah ajaran tersebut kini sudah bergeser? Banyak orang pintar sangat mahir memainkan dalil untuk berkelit, cerdas berdebat mencari dalil pembenar. Saya juga jadi kepengen tahu…apakah benar Anas Urbaningrum yang saya banggakan tersebut akan mundur dari DPR? Kita tunggu saja, walaupun harapan saya semoga Anas tetap di DPR.

Beban berat?

Semakin tinggi derajat keilmuan seseorang, akan semakin tinggi derajat kesulitan ujian yang diberikan Tuhan. Namun Tuhanpun memberikan jaminan “pasti” bahwa; “Tuhan tidak akan membebani mahlukNya, melampaui kemampuannya.”

……………………………………..

Akhirnya saya lari ke kamar dan bercermin, siapakah saya? koq berani-beraninya berkhotbah tentang politik kepada pakarnya?

Kalau secara umur, maka wajar jika saya berkata pada AU: “ Nas….Anas…..jangan mundur dari DPR!”


Anas Urbaningrum success in gaining the Democratic one, blowing a variety of new hope for both the Democratic Party itself and national politics. New hopes are sparked from the many political observers think "top" of the sharing circles (internal and external Democrats).


AU political track record will not be discussed in this paper, since a lot of experts who had shelled out a lot of football lunge is the New Hope. In this article I am only limiting and wanted to see how the AU political communication in the House, after the election to be Chairman of the Democrat Party.


As we all know that the MA (Marjuki Alie), candidates who diunggulinya, is Chairman of the House of Representatives. While the AU itself is a member of Parliament. One was chairman of the House, the other was the Chairman of the Party, both of the same party and had just finished competing "fight" the Democrats first. Recollection of my knowledge, and is now happening in many places, every party chairman who managed to sit in the legislature (DPRD II, DPRD I,) ever become chairman or vice chairman. It would be very interesting to see together how we are playing politics AU politeness in communication with the MA in Parliament.


Why am I interested?


The morning after the AU was chosen, I was chatting with neighbors about how the position of two brothers (AU and MA) in the House of Representatives. My neighbor told me, that Anas will resign from the board members. Whether the news source from which, he's from TV. I tried looking for news on the Internet and as easy as turning the palm of the hand .... The news spread in cyberspace (http://www.detiknews.com/read/2010/05/24/002215/1362618/10/raih-pd-1- Anas-ready-to-back-from-the House? n991101605).


I as the countrified suburbs and is very confused and shocked. My decades of school and learning from the teacher at the village, they always give advice that "National Interest must at dahulukan above personal interests and groups." I think ... ... a member of Parliament was to national interests. With the existence of Anas in the House, many people who feel represented and amazed / praise of politeness in politics Anas. While organizing and building the Democratic Party's rank no higher than represent the people of Indonesia as a whole and across party / cross faction.


Or is that teaching has now shifted? Many people are very adept at playing smart argument to twisted, intelligent argument for the proposition justifier. I am also so kepengen know ... if it was true that I boast of Anas Urbaningrum will resign from the House of Representatives? We just wait, though I hope Anas may remain in Parliament.


Heavy load?


The higher degree of scientific person, the higher the degree of difficulty God-given exam. But the LORD give guarantees "certain" that, "God will not burden the mahlukNya, beyond his ability."


Finally, I ran into the room and the mirror, who am I? Why  had the nerve to preach about politics to the experts?

If the ages, then the fair if I said the AU: "Nas .... Anas ... .. do not back down from the House!"



1 comments:

noeyagungbsband said...

kasian om AM walaupun belum abis"-an yang ada di abis-in tetep j kurang lebih nominal-na smpe "M"-an.

cacat-na om AM dah banyak di cium publik.
dari mulai E-Mail yang di sinyalir keluar-an beliau yang di tujukan untuk om MuchlisHasyim tahun lalu, hingga terakhir yang saya tahu, orasi kontroversial-na yang menyudutkan masyarakat Bugis.

bercermin pada hal tersebut, bisa kita ambil kesimpulan, bahwa : dukungan putra dari seorang RI I (Ibas) serta kedekatan emosional yang tidak mungkin tidak terjalin selama menjabat sebagai JuBir. ke presiden-an yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidaklah cukup untuk mengangkat seorang AM menuju kursi Ketua Umum.

salam. (belajar politik.com :P).

About Me

My Photo
zappra
Ordinary People with Ordinary Thinking
View my complete profile